Selasa, 16 Desember 2014

Eksotisme Pulau Karimun Jawa dan Penangkaran Hiu

foto: google
Berada di dekat Samudera Hindia, keindahan Pulau Karimun Jawa, Jepara, Jawa Tengah menjadi daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Dari Pelabuhan Kartini Jepara, para wisatawan akan menyebrangi lautan dengan menggunakan Kapal Laut Express Bahari atau Kapal Ferri yang bersandar pada pagi hari dari pukul 07.00 sampai 10.00.

Biaya yang harus dikeluarkan cukup merogoh kocek yaitu sebesar Rp 110.000 sampai Rp 130.000 untuk menaiki Kalap Laut Express Bahari. Sedangkan untuk Kapal Ferri hanya cukup mengeluarkan biaya sebesar Rp 50.000.

Perbedaan waktu menggunakan Kapal Express dengan Kapal Ferri adalah dua jam. Dimana ketika menaiki Kapal Express hanya membutuhkan waktu dua jam untuk menyebrang. Sementara naik Kapal Feri membutuhkan waktu empat jam.

Hampir selama dua jam perjalanan menuju Pulau Karimun Jawa, wisatawan disuguhkan pemandangan lautan yang biru dan sangat bersih. Kencangnya angin membuat ombak bergulung-gulung mengikuti arah angin. Hal ini merupakan salah satu pemandangan sebelum menuju Pulau Karimun Jawa.

Pemandangan laut Yang indah tiba-tiba menghilang ketika melihat suatu pemandangan hijaunya pepohonan yang berada di Pulau Karimun Jawa. Ternyata itu pemandangan keindahan alam Pulau Karimun Jawa .Pulau yang terdiri dari 27 pulau. Namun, yang berpenghuni hanyalah lima pulau yaitu Karimun Jawa, Kemujan, Nyamuk, Parang dan Genting.

Syamsul Arifin (44) salah satu tour guide menceritakan awal mula Pulau Karimun Jawa bisa dikenal masyarakat Indonesia. Berawal dari wisatawan mancanegara yang berkunjung dan menikmati biota bawah laut dan pasir putih Pulau Karimun Jawa.

"Pulau Karimun Jawa ini baru terkenal tahun 2008-an. Kalau dilihat di Youtube pada tahun 2006 hanya ada mobil pengangkut dari Pulau Karimun Jawa. Memang yang pertama kali menikmati dan memperkenalkan Pulau Karimun Jawa adalah warga asing," kata pria yang akrab disapa Syamsul kepada Warta Kota beberapa pekan lalu.

Ayah dari empat orang anak itu mengatakan bahwa dengan banyaknya turis asing sangat membantu perkembangan Pulau Karimun Jawa dari segi pariwisata dan ekonomi warga. Dahulunya, para penduduk Pulau Karimun Jawa mayoritas mempunyai profesi sebagai nelayan. Namun, saat ini tinggal tersisa 60 persen yang tetap bekerja melaut mencari ikan.

"Sisanya sekarang menjadi tour guide dan mengelola home stay serta hotel-hotel," ucapnya.
Rumah para penduduk yang dulunya seperti gubuk saat ini sudah berubah 180 derajat. Kebanyakan rumah penduduk dirubah lebih baik dan dijadikan tempat menginap untuk para wisatawan. Harganya yang ditawarkan bervariatif antara Rp 80.000 sampai 100.000 per malam. Hal ini berbeda dengan harga sewa hotel per hari yang dipatok dengan tarif sebesar Rp 350.000 sampai Rp 400.000.

"Sebagian rumah penduduk dulunya gubuk dan kini sudah dirombak habis-habisan untuk melayani para wisatawan," kata Kakek dari satu orang cucu itu.

Keindahan Pulau Karimun Jawa terlihat ketika para wisatawan berada di tengah laut dan melakukan snorkling dan daving. Batu-batuan terumbu karang dan 400 spesies fauna laut memperindah negeri bawah laut Pulau Karimun Jawa. Tak hanya itu, setidaknya ada 242 jenis ikan hias seperti nimo yang hidup di perairan Laut Samudra Hindia itu.

Penangkaran Ikan Hiu
Keunikan lain yang ditawarkan di kawasan Pulau Karimun Jawa yaitu penangkaran ikan hiu. Jika wisatawan ingin menyapa dan menyentuh langsung binatang terganas di lautan itu harus menyebrangi ke Pulau Menjangan Besar. Beberapa hiu dikembangbiakan oleh salah seorang pria asal Semarang yang bernama Aceng sejak tahun 1970.

Berawal dari hobi dengan pemiliharan ikan, Kakek berusia 70 itu membuat suatu penangkaran ikan hiu. Selain ikan hiu, ada hewan-hewan lainnya seperti ikan pari, penyu serta bintang laut.
"Awalnya hobi memelihara ikan disini saja. Kemudian, banyak masyarakat yang berkunjung untuk menikmati dan berenang bersama hiu," kata dia.

Jika para wisatawan ingin mengabadikan peristiwa berenang bersama ikan hiu, ikan pari dan bintang laut hanya cukup merogoh kocek sebesar Rp 5.000. Namun, untuk masuk ke penangkaran ikan hiu, wisatawan harus merogoh kocek yang cukup besar yaitu Rp 25.000 per orang.

"Ada dua belas hiu kecil yang bisa untuk berfoto bareng. Ada juga penyu dan bintang laut disini," ucapnya.
Dia mengaku sebelum ada Sea World di Ancol, Jakarta Utara, penangkaran hiu ini sudah dikenal masyarakat. Bahkan, dia sempati ditawari untuk merawat biota bawah laut di Sea World. Namun, dia menolaknya. "Saya hanya mau fokus mengembangbiakkan ikan-ikan hiu disini," tutupnya.

sumber: http://www.tribunnews.com/lifestyle/2014/09/07/eksotisme-pulau-karimun-jawa-dan-penangkaran-ikan-hiu

Kronologi Temuan Kapal Nazi oleh Penyelam Sipil

Komandan Datasemen Tiga Satuan Kopaska Armatim Surabaya, Mayor Laut (P) Yudo Ponco Ari, menjelaskan kepada Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo dan Duta Besar Jerman untuk Indonesia Georg Witschel, dalam pemaparan penemuan kapal selam milik Jerman oleh TNI, di gedung BPPT I, Jakarta, 11 Desember 2014. Tim penyelam Kopaska TNI Al menemukan bangkai kapal selam Nazi (U-Boat) peninggalan masa Perang Dunia II di kedalaman 25 meter Laut Jawa. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.CO, Tempo - Sebanyak sepuluh penyelam sipil mengklaim menemukan sisa bangkai kapal selam Nazi di Laut Jawa pada 2013. Dugaan awal mereka berdasarkan informasi dari masyarakat nelayan di Pulau Karimun Jawa.

“Kapal selam tersebut merupakan milik Nazi. Kami peroleh dari temuan-temuan berupa piring yang pada dasarnya terdapat simbol Nazi dan simbol Angkatan Laut Nazi,” kata seorang penyelam, Ahmad Surya Ramadhan alias Madha, 27 tahun, kepada Tempo, Senin, 15 Desember 2014. (Baca juga: Detail Isi Kapal Nazi di Laut Jawa)

Ekspedisi penyelaman itu dilakukan pada 9-10 November 2013. Tim berangkat dari Pulau Karimun Jawa pada 8 November sekitar pukul 9 malam. Total anggota tim berjumlah 14 orang. Sebanyak 10 orang di antaranya merupakan penyelam dari Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Yogyakarta, Sentra Selam Jogja, dan penyelam lokal. Mereka tiba di lokasi sekitar pukul 6 pagi, 9 November 2013. (Baca juga: Penyelam Ini Klaim Temukan Kapal Nazi))

Madha, pada 2013 itu, menyelam dari kelompok Sentra Selam Jogja. Kini ia bekerja sebagai staf Bidang Arkeologi Maritim Pusat Arkeologi Nasional. Penyelaman itu, kata Madha, merupakan program Pusat Arkeologi Nasional untuk penelitian arkeologi maritim. Menumpang kapal nelayan, mereka menempuh jarak sekitar 127 kilometer dengan waktu sekitar 9-10 jam. (Baca juga: Bangkai Kapal Selam Jerman Jadi Cagar Budaya)

sumber: http://www.tempo.co/read/news/2014/12/16/058628795/Kronologi-Temuan-Kapal-Nazi-oleh-Penyelam-Sipil

Ini perjalanan kapal selam Nazi hingga karam di Karimun Jawa

Merdeka.com - Pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan penemuan bangkai kapal selam Nazi Jerman. Kapal selam yang dikenal Unterseeboot atau U-Boat ini ditemukan oleh pasukan Komando Pasukan Katak (Kopaska). Kapal ini sempat menjadi momok bagi kapal-kapal sekutu selama berlangsungnya Perang Dunia I dan II.

Penyelidikan kapal U-Boat ini dipimpin oleh Mayor Yudo Ponco. Kapal berawak 48 awak ini diberitakan tenggelam ketika berpatroli di Karimun Jawa, hingga menewaskan 23 kelasi, 17 di antaranya ditemukan sudah menjadi rangka.

Dari penelusuran Mayor Ponco dan timnya, menduga kapal tersebut berjenis U-168, yang dikabarkan tenggelam saat berpatroli di sekitar Laut Jawa. Namun, dia belum berani memastikan, karena Jepang pernah memiliki kapal U-Boat bertipe U-511 yang merupakan hadiah dari Jerman.

"Belum dapat dipastikan, cuma temuan dari logo di piring segala macam mengarah ke U-168 karena ada tulisan logo Jerman tahun 1938," tandasnya ujar Yudo di kantor Kemenko Maritim BPPT, Jakarta Pusat, Kamis (11/12).

Dari penelusuran merdeka.com, kapal U-168 ini buang sauh dari Kiel, Jerman pada 3 Maret 1943. Kapal ini bergerak menuju Kattegat dan Skaggerak, Norwegia, kemudian menuju Islandia dan Kepulauan Faroe, kemudian mengitari Kepulauan Inggris. Kapal ini mengakhiri perjalanannya di Lorient, Prancis, negara jajahan Nazi di era Perang Dunia II.

Setelah menjalani perbaikan kecil, U-168 melanjutkan perjalanan menuju Laut Hindia. Dalam perjalanannya itu, kapal selam ini menenggelamkan kapal dagang Inggris, SS Haiching. Serangan itu menjadikan buruan militer Inggris, namun gagal menenggelamkannya, hingga berhasil merapat ke Pelabuhan Penang, Malaysia.

Pada 7 Februari 1944, kapal ini kembali melanjutkan perjalanan. Dua kapal perang milik sekutu berhasil ditenggelamkan, yakni HMS Salviking milik Inggris dan dan Epaminondas C. Embiricos milik Yunani di dua lokasi berbeda. Meski begitu, sebuah kapal perang Norwegia berhasil merusak lambung kapal, namun tidak sampai tenggelam akibat kehabisan amunisi.

Sang komandan, Kapten Helmuth Pich memerintahkan awaknya untuk mundur dan memperbaiki kapal di Batavia (sekarang Jakarta). Perjalanan berakhir pada 5 Oktober 1944, hanya beberapa jam setelah berangkat, kapal ini berhasil ditenggelamkan kapal selam Belanda, Zwaardvisch. Serangan ini menewaskan 23 awaknya, sedang 27 sisanya tertangkap.

Meski demikian, banyak yang meragukan kapal selam Nazi Jerman tersebut merupakan U-168. Beberapa sumber menyebut kapal tersebut adalah U-183 yang ditenggelamkan pada 23 April 1945 oleh kapal selam AS, Besugo (SS-321) yang juga di Laut Jawa.

sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-perjalanan-kapal-selam-nazi-hingga-karam-di-karimun-jawa.html

Jateng Siapkan 16M untuk Perbaiki Jalan Pulau Karimunjawa

Jepara, Seruu.Com - Pada tahun anggaran 2015 Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan membantu perbaikan jalan di Pulau Karimunjawa dengan anggaran hingga Rp16 miliar.

"Adapun panjang jalan yang akan dilakukan perbaikan sekitar 22 kilometer dari Desa Karimunjawa hingga Kemojan," ujar Bupati Jepara Ahmad Marzuqi di Jepara, Selasa (2/12/2014).

Awalnya, kata dia, perbaikan jalan tersebut hendak direalisasikan tahun anggaran 2014 pada APBD Perubahan, namun karena waktunya terlalu mepet maka ditunda tahun depan.

Adanya perbaikan jalan tersebut dia harap dapat menunjang aktivitas sehari-hari masyarakat setempat, termasuk para wisatawan yang berkunjung ke Pulau Karimunjawa.

Sarana dan prasarana di Pulau Karimunjawa, lanjut dia, memang perlu dibenahi guna mendongkrak tingkat kunjungan wisatawan karena masih banyak potensi wisata yang bisa dikembangkan.

Selain sarana jalan di kawasan tersebut, kata dia, landasan pacu di Bandara Dewandaru juga akan diperpanjang lagi menjadi 1.600 meter. Awalnya, panjang landasan hanya 900 meter, kemudian diperpanjang menjadi 1.300 meter.

Dengan landasan sepanjang itu, ujarnya, hanya bisa menampung pesawat bermuatan 40-an penumpang.

Apabila landasan pacu bandara setempat mampu menampung pesawat komersial nantinya bisa menjadi alternatif wisatawan yang berkunjung ke Pulau Karimunjawa, ketika transportasi laut terkendala ombak.

"Jika menggunakan transportasi laut waktu yang dibutuhkan memang agak lama karena untuk menempuh jarak 90 kilometer dari Jepara ke Karimunajawa bisa mencapai 5 jam disesuaikan dengan kapalnya," ujarnya.

Menggunakan kapal cepat yang ada saat ini, kata dia, hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam, sedangkan Kapal Muria antara 4 - 5 jam.

Potensi alam yang bisa ditawarkan kepada pengunjung, kata dia, cukup banyak, termasuk terumbu karangnya juga dapat dikembangkan lagi melalui kegiatan menyelam.

Adanya pengembangan Bandara Dewandaru, maka objek wisata Karimunjawa akan menjadi satu dari empat destinasi wisata andalan di Jateng.

Selain memiliki potensi wisata alam, Karimunjawa juga memiliki potensi hasil laut, seperti ikan dan rumput lautnya yang memiliki spesifikasi yang baik.

sumber: http://city.seruu.com/read/2014/12/02/236324/jateng-siapkan-rp16-miliar-untuk-perbaiki-jalan-pulau-karimunjawa

Melongok Indahnya Sunset di Karimunjawa

JEPARA - Kepulauan Karimunjawa yang secara administrasi berada di wilayah Kabupaten Jepara Propinsi Jawa Tengah merupakan tempat wisata bahari yang menawan. Sebagai pulau terbesar yang dikelilingi 27 pulau kecil, Karimunjawa memiliki keindahan taman bawah laut yang menawan.

Taman nasional laut ini beriklim tropis dipengaruhi angin laut yang bertiup sepanjang hari. Suhu rata-ratanya sekitar 26-30 derajat Celcius. Karimunjawa memiliki kekayaan ekosistem flora dan fauna mulai dari terumbu karang, dan hutan Mangrove.

Selain itu, wisatawan bisa melakukan snorkeling, diving, termasuk berenang, bercengkrama bersama hiu-hiu jinak menjadi tujuan utama wisatawan domestik maupun mancanegara.

Selain itu, setiap wisatawan yang menginjakkan kaki di pulau berpenduduk kurang lebih tujuh ribu jiwa dan belum tersentuh listrik negara (PLN) tersebut tidak akan pernah melewatkan jalan-jalan di taman nasional hutan Mangrove seluas 10,5 hektar dengan jalur tracking sepanjang 2 km yang menyuguhkan aneka macam jenis pohon Mangrove langka.

Kemudian, pengunjung juga bisa berjemur di hamparan pasir putih pantai Pulau Cemara Besar dan Kecil serta menikmati panorama elok tergelincirnya matahari (sunset) di Tanjung Gelam. Tidak heran, tidak sedikit yang menyebut Karimunjawa sebagai Pulau Balinya Jawa.

Karimunjawa dijuluki Perawan Jawa, sebuah inisial yang merujuk pada perairannya begitu bening sehingga sebuah koin yang jatuh ke dalamnya akan dengan mudah Anda temukan karena kejernihannya.

sumber: http://lifestyle.sindonews.com/read/925189/156/melongok-indahnya-sunset-di-karimunjawa-1416206718